Harga Rumah dan Tanah di Bekasi Meningkat Drastis
Harga rumah di pinggiran Jakarta, seperti Bekasi, Bogor, dan Depok mungkin akan lebih murah dan menjadi alternatif pilihan. Namun, akhir-akhir ini banyak kabar tentang naiknya harga tanah dan rumah di kawasan-kawasan tersebut. Hal ini bisa saja disebabkan oleh beberapa faktor. Di Bekasi, karena banyaknya lahan industri, banyaknya warga asing, dan terbatasnya lahan hunian bisa mendorong kenaikan harga sebuah rumah.
Banyaknya lahan yang dibutuhkan untuk membangun rumah tinggal yang nyaman, sebagian disebabkan karena semakin banyaknya kaum ekspatriat asing yang bertempat tinggal di Indonesia. Sama halnya dengan di Jakarta, banyak warga negara asing yang mencari hunian nyaman di daerah Bekasi. Kebanyakan dari warga asing yang menetap di Indonesia biasanya hanya untuk melakukan kepentingan bisnis.
Sayang sekali, lahan yang tersedia untuk membangun rumah dan perkantoran semakin terbatas. Dengan ketidak seimbangan yang terjadi, hal ini tentu saja menyebabkan harga tanah di Bekasi menjadi meningkat drastis, yang dapat juga berpengaruh pada harga rumah di Bekasi. Dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini, harga tanah di bekasi sudah mengalami kenaikan sekitar 75 persen, menurut catatan Coldwell Banker Indonesia.
Kenaikan harga tanah dan rumah di Bekasi juga disebabkan oleh perkembangan kawasan industry. Total luas lahan industry di Bekasi pada tahun 2012 tercatat sudah mencapai 6000 ha, menurut riset dari konsultan property di Coldwell Banker Indonesia.
Akhir-akhir ini, ada kabar tentang pembangunan monorel dengan rute Bekasi Timur-Cawang, Cawang-Kuningan, dan Cibubur-Cawang. Harga Rumah dan tanah di Bekasi yang dilewati oleh rute monorel tersebut mungkin akan melonjak naik, jika kabar tersebut benar-benar terealisasi.
Kemungkinan harga tanah atau rumah di Bekasi akan setara dengan harga tanah dan rumah di Jakarta. Sampai saat ini saja, harga tanah termahal di Jakarta, tepatnya di daerah Thamrin, Sudirman, dan sekitarnya sudah mencapai rata-rata seratus juta rupiah per meter perseginya. Harga tersebut bukan tidak mungkin akan berlaku di daerah-daerah yang akan dilalui oleh jalur monorel.
Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan cara membangun perkantoran dan hunian yang menjulang ke atas atau vertikal, misalnya: apartemen dan gedung pencakar langit. Cara ini efektif untuk mencegah banyaknya lahan yang dipakai untuk satu rumah.
Seperti yang sudah dilansir oleh Meyriana Kesuma, Manager Research and Consultancy Coldwell Banker Comercial, harga tanah untuk kawasan perumahan atau residensial di Bekasi kemungkinan dapat mencapai tiga atau empat juta rupiah per meter perseginya. Sementara itu, harga tanah di kawasan komersial di Bekasi sudah dapat dipastikan akan mencapai lebih dari tujuh juta rupiah per meter perseginya.
Saat ini, ada sekitar kurang lebih sepuluh ribu warga negara asing di Bekasi, dan kebanyakan di dominasi oleh warga Korea dan Jepang, sesuai dengan riset yang dilakukan oleh Coldwell Banker Indonesia. Kebanyakan dari warga asing tersebut berminat dan mencari tempat tinggal yang nyaman, layak, dan tentu saja tidak jauh dari tempat mereka bekerja. Sudah dipastikan, untuk masa mendatang proyek pembangunan gedung kantor pencakar langit dan apartemen akan menjadi sebuah tren di Bekasi.
Semoga dengan adanya solusi dari permasalahan tersebut, lahan-lahan yang terbatas dapat dipergunakan sebaik-baiknya untuk membuat hunian yang layak, aman, dan nyaman untuk warga di Bekasi dan juga warga pendatang dari negara lain.
