Anda di sini: Home Kesehatan Amankah Latihan Keras Terhadap Pasien Jantung?

Amankah Latihan Keras Terhadap Pasien Jantung?

Amankah Latihan Keras Terhadap Pasien Jantung?
Photo Credit: Kevin M

Latihan intensitas ringan sering disarankan bagi pasien yang akan memulihkan diri dari operasi maupun penyakit jantung. Tetapi berdasarkan kajian riset yang terdapat pada jurnal Circulation, jika latihan ini ditambah tingkatannya ke level lebih tinggi dinilai masih relatif aman untuk pasien jantung.

‘Hasil penelitian terakhir mengindikasikan bahwa resikonya tetap rendah untuk terjadinya serangan jantung, baik setelah melalui latihan dengan intensitas tinggi ataupun sedang’, menurut Oelvind Rognmo yang merupakan ketua peneliti Universitas Sains dan Teknologi Norwegia.

Tambah Rognmo, terdapat banyak bukti yang mengungkapkan semakin keras latihan, maka semakin banyak kebaikannya bagi fungsi kardiovaskular. Tim yang diketuai oleh Rognmo ingin mengetahui apakah seorang pasien penyakit jantung mendapatkan manfaat dari latihan yang memiliki intensitas tinggi. Walau demikian, harus menjadi perhatian bagi para pasien penyakit jantung jika semakin besar energi yang dikeluarkan bisa meningkatkan resiko pada kerusakan jantung.

Rognmo beserta rekan-rekannya meneliti empat ribu lebih pasien di sentra rehabilitasi jantung Norwegia yang mengikuti latihan aerobik lebih dari seratus tujuh puluh ribu jam. Latihan dengan intensitas Sedang menghabiskan lebih dari 129.450 jam dan selebihnya dengan latihan intensitas yang Tinggi. Seluruh pasien dalam penelitian tersebut mengikuti pada kedua intensitas latihan tersebut.

Latihan yang memiliki intensitas Sedang di antaranya satu jam berlatih jalan kaki atau latihan Sedang lainnya yang mampu memacu 60 sampai 70 persen dari denyut jantung maksimal peserta latihan. Sedangkan pada latihan dengan intensitas tinggi, para peserta berlatih dengan jarak empat menit yang berulang-ulang, dengan seleksi latihan yang memiliki dampak besar contohnya ski lintas alam, bersepeda, atau jogging, guna memacu denyut jantung mereka 85 hingga 95 persen kapasitasnya (dilanjutkan dengan 4 menit atau lebih dengan aktivitas santai, seperti berjalan).

Peserta menghabiskan waktu untuk latihan dengan intensitas yang Sedang dengan waktu lebih 129.000 jam, terdapat satu orang meninggal dikarenakan serangan jantung. Dan setelah 46.000 jam melakukan latihan dengan intensitas yang tinggi, terdapat dua orang yang mengalami serangan jantung, tetapi masih bisa selamat.

‘Kami mengetahui, bahwa kedua tipe tipe latihan tersebut menyebabkan angka kejadian yang relatif rendah. Saya pikir sebaiknya dipertimbangkan bagi pasien penyakit jantung koroner’, ungkap Rognmo.

Sejumlah Faktor Risiko terhadap Penyakit Jantung Koroner

  • Seorang pria yang telah memasuki usia 45 tahun.
    Kaum pria harus menyadari kerentanan mereka dan melakukan tindakan yang positif untuk menolak datangnya penyakit jantung.
  • Seorang wanita yang telah berusia 55 tahun atau telah mengalami menopause dini (biasanya akibat operasi).
    Kaum wanita mulai menyusul kaum pria dalam masalah risiko penyakit jantung sesudah menjalani menopause.
  • Terdapat iwayat penyakit jantung di keluarga.
    Riwayat serangan jantung dalam keluarga sering menjadi akibat profil kolesterol yang abnormal.
  • Penderita diabetes.
    Sebagian besar penderita diabetes meninggal bukan karena bertambahnya level gula darah, tetapi karena akibat kondisi komplikasi pada jantung mereka.
  • Merokok.
    Resiko atas penyakit jantung dari aktivitas merokok sama dengan 100 pon atas kelebihan berat badan – sehingga mustahil menyamakan keduanya.
  • Hipertensi (tekanan darah tinggi).
  • Obesitas (kelebihan berat badan)
    Obesitas tengah (perut buncit) merupakan bentuk dari kegemukan. Meskipun semua orang gemuk lebih condong memiliki risiko penyakit jantung, apalagi orang dengan obesitas tengah.
  • Gaya hidup buruk.
    Adalah salah satu akar penyebab atas penyakit jantung – dan merubahnya dengan kegiatan fisik adalah salah satu langkah yang sangat radikal yang bisa diambil.
  • Stress.
    Sebagian besar penelitian yang telah menunjukkan bahwa, jika menghadapi situasi yang tegang, bisa terjadi arithmias jantung yang dapat membahayakan jiwa.

Namun ia bersama rekan-rekannya menuliskan bahwa selisih jumlah serangan jantung masih terlalu kecil untuk diambil kesimpulan apakah latihan yang menggunakan intensitas tinggi lebih berbahaya dibanding dengan latihan dengan intensitas yang relatif lebih rendah.

‘Saya pikir, kami berada di jalur yang benar. Tetapi sebelum hal ini dijadikan referensi standar, mari dapatkan data keselamatan kita’, ungkap Steven Ketevian, seorang direktur kardiologi preventif Rumah Sakit Henry Ford yang belokasi di Michigan. Steven tidak terlibat pada penelitian tersebut.

Leave a Reply

Cari Artikel

Iklan

Kategori

Arsip

Bookmark Kami

Sitemap